Woro-woro
Ber Sastra sambil berSepeda
di Boja
(4 – 10 Mei 200
(Sebuah Eksperimen Menulis Catatan Perjalanan)
Ada hajatan sastra antara Pondok Maos GUYUB, Pondok Baca Ajar Meteseh dan milis Apresiasi-Sastra.
1. Kapan: 4 - 10 Mei 2008.
2. Di mana: Desa Bebengan, Kec. Boja, Kab. Kendal (30 km dari Semarang)
3. Tujuan: Membuat eksperimen tulisan: Catatan Perjalanan dengan Sepeda keliling desa.
5.Motivasi: Bagi peserta lokal untuk mengenal kepemilikan daerahnya sendiri lewat catatan perjalanan. Bagi peserta luar, sebuah wisata tulis yang mengasyikkan disertai aroma pedesaan. Menumbuhkan kepekaan peserta pada masalah-masalah sosial.
4. Obyek:
1. Pasar Hewan, 2. Pasar Boja, 3. Pabrik Genting, 4. Pabrik Tempe, 5. Pabrik Karet, 6. Nonton Teater Bocah di Desa, 7. Jalur Irigasi/Dam zaman Belanda, 8. Panti Orang Sakit Jiwa, 9. Puskesmas, 10. Pegadaian, 11. Panti Jompo, 12. Pesantren, 13. Masjid Agung, 14. Gereja, 15. Makam Keramat Sunan Bromo, 16. Makam Taman Pahlawan, 17. Goa Kiskendo, 18. Latihan Kuda Lumping Anak-Anak.
5. Keberangkatan: selalu dari Pondok Maos GUYUB.
Jalan Raya Bebengan No:221 Boja-Kendal
Telp: 0294-571 204
6. Persiapan Alat Tulis/Gambar:
Setiap peserta diharapkan membawa alat tulis sendiri untuk mencatat seluruh kegiatan yang dilakukan. Jika peserta suka menggambar, mereka bisa pula menggambar di setiap obyek yang dilewati atau kunjungi.
7. Persiapan Sepeda:
Bagi peserta luar kota, yang tentu kesulitan membawa sepeda, maka panitia akan membantu mencarikan pinjaman dari warga desa.
8. Membuat Buku Jahit Tangan:
Rencana setelah naskah Catatan Perjalanan dikumpulkan dan diseleksi, akan dibuat buku sederhana dengan model fotokopian dan jahit tangan. Teknik detilnya, akan dijelaskan pada acara Pembekalan, Sabtu, 3 Mei, pukul: 15.00 - selesai.
9. Peserta: Warga Boja dan sekitarnya, Komunitas Apsas, Komunitas Bukuku di Semarang. Maaf, karena kepanitiaan yang kecil saja, maka belum mampu mengundang untuk kalangan yang lebih luas lagi. Peserta bisa mengikuti seluruh acara selama 7 hari, tapi juga bisa memilih pada hari hari tertentu sesuai obyek yang dianggap menarik.
10. Penginapan dan Konsumsi:
Bagi peserta dari luar kota, akan diinapkan ke rumah tetangga. Konsumsi ala kadarnya akan disediakan oleh penyelenggara.
Jadwal:
Pembekalan: Sabtu, 3 Mei, pukul 15.00-selesai di Pondok Maos GUYUB.
Hari I: Minggu, 4 Mei: Pasar Hewan - Pasar Boja - Pabrik Genting - Pondok Ajar
Berangkat: 09.00
Makan siang: 13.00 di Pondok Baca Ajar desa Selamet, Meteseh.
*Karena Minggu adalah hari libur dan Pasar Hewan serta Pasar Boja ramainya minggu pagi, maka perlu diberangkatkan pada pagi hari pukul 09.00. Pada hari-hari selanjutnya, mengingat jam sekolah dan kerja, maka diberangkatkan pukul 14.00, selesai pukul 18.00 (selama 4 jam).
*Lokasi Pasar Hewan ini di tengah sawah di dusun Karangjati. Dari Pasar hewan rombongan sepeda beralih ke Pasar Boja, lewat pedesaan dan persawahan yang asri. Pasar Boja berhadapan dengan terminal bus dan gedung Kawedanan. Dari sini rombongan membelah pedesaan lagi menuju desa Gentengan untuk menyaksikan warga desa membuat genteng. Menjelang tengah hari, rombongan sepeda melanjutkan ke Pondok Ajar. Sebuah taman bacaan di desa Slamet, Meteseh. Peserta sepedanan akan disuguhi pentas Teater Bocah Desa. Sambil menikmati tontonan, ada jamuan makan siang ala wong deso, dengan Lalapan Daun Ketela, Ikan Asin, (Ditiadakan Daging), Keripik. Buah: jambu, pepaya, dll. Minum: Es Dawet rasa Nangka atau kelapa muda.
Hari II: Senin, 5 Mei: Dam Siti – Blimbing – Gading - Salamsari (Panti Orang Sakit Jiwa)
Berangkat: 14.00
*Ini rute irigasi peninggalan zaman Belanda. Sepeda akan menggelinding selalu dipinggir sungai kecil. Dam-dam dari beton tua itu masih kokoh. Fungsinya sangat vital untuk pertanian, di samping juga sering dipakai oleh warga desa untuk mandi dan memandikan sapi atau mencuci pakaian. Panorama persawahan memonopoli. Salah satu dam ini bernama Dam Siti. Menurut kisah rakyat, zaman dulu ada pasangan pengantin yang mandi di dam ini. Pengantin perempuan bernama Siti telah tenggelam dan meninggal. Sejak peristiwa naas itu, maka nama dam ini disebut Dam Siti. Usai menyusuri beberapa bendungan tua di desa Blimbing, rombongan sepedanan berhenti di sebuah Panti untuk orang-orang sakit Jiwa di desa Salamsari.
Hari III: Selasa, 6 Mei: Puskesmas – Pegadaian - Panti Jompo - Pabrik Tempe
Berangkat: 14.00
*Ini satu jalur lurus di jalan raya Boja. Pertama akan mengunjungi Puskesmas, melihat para pasien dan bisa melakukan wawancara baik pada pasien atau perawatnya. Dilanjutkan menuju Pegadaian. Peserta bisa mengamati gedung tinggalan Belanda dan bisa melihat kegiatannya dari jarak dekat. Hanya bersebelahan pagar dengan gedung Pegadaian adalah Panti Jompo. Di Panti Jompo ini peserta juga dibebaskan masuk ruangan los panjang, dimana para penghuni panti tiduran di dipan saling bersebelahan tanpa pembatas pagar. Masing-masing penghuni memiliki lemari kecil di samping dipan. Panti Jompo diperuntukkan bagi warga desa yang tidak mampu atau tidak memiliki keluarga. Peserta bebas membuat wawancara pada mereka yang menghuni maupun pada perawatnya. Usai dari Panti Jompo, rombongan akan diajak melihat pabrik tempe. Tata cara pembuatan tempe akan diterangkan oleh pegawainya.
Hari IV: Rabu, 7 Mei: Makam Sunan Bromo Depok - Pabrik Karet Getas Kecil
Berangkat: 14.00
*Acara kali ini sedikit spiritual, dengan melewati jembatan di atas sungai Bodri, mendatangi makam Sunan Bromo. Menurut cerita orang setempat, Sunan Bromo adalah termasuk tokoh penyebar Islam di zaman kekuasaan Buddha. Sebab itu makam ini masih ada kaitannya dengan legenda Rowo Pening di Ambarawa. Makam di pinggir sungai ini setiap Jumat Kliwon banyak orang tirakatan (Tidak Tidur Semalam Suntuk sambil Berdoa). Makam keramat ini dianggap sangat berpengaruh bagi masyarakat Boja dan sekitarnya. Bahkan pada kasus-kasus pencurian misalnya, pengadilannya tidak lewat kantor desa atau polisi, melainkan secara diam-diam diadakan sumpah di makam ini. Sebagian warga percaya, sang pencuri akan mendapat kutukan yang setimpal pada nasibnya di kemudian hari. Ada yang unik lagi, setiap acara Ulang Tahun Desa dengan pagelaran wayang kulit, di makam ini tidak diperkenankan memakai dalang perempuan. Konon akan menuai petaka, sebab pernah sekali terjadi. Acara syawalan, pernah digelar beberapa kali, lalu berhenti.
Hanya mengayuh sedikit sepeda ke arah barat, memasuki area luas Pabrik Karet. Gedung-gedung tua tinggalan Belanda masih kokoh berdiri. Tangki-tangki latex yang diangkut truk dari hutan dan pengeringan karet bisa disaksikan dari dekat.
Hari V: Kamis, 8 Mei: Goa Kiskendo - Alas Karet Mijen Merbuh
Berangkat: 14.00
*Bisa dibilang, bagi pencinta alam dan puisi, jalur ini menawarkan daya pikatnya. Bagaimana tidak, sejak start pertama langsung sawah, dan sepanjang perjalanan hanya di dalam Alas Karet serta desa-desa kecil. Goa Kiskendo, adalah goa alam yang di dalamnya terdapat sungai mengalir. Untuk memasuki Goa ini orang harus memanjat lorong kecil. Goa ini berseberangan dengan sebuah bukit. Hamparan pemandangan persawahan dan ladang, dengan gemericik air sungai, menunggu lahirnya puisi-puisi baru. Catatan Perjalanan dipadu dengan puisi, atau lukisan sangat menantang.
Hari VI: Jumat, 9 Mei: Masjid Agung – Gereja – Pesantren - Makam Taman Pahlawan
Berangkat: 14.00
*Kali ini petualangan masuk jantungnya kota Boja. Kota kawedanan ini punya Masjid Agung. Letaknya di pinggir jalan raya, bersebelahan dengan sekolah Madrasah dan Tsaniwiyah. Peserta bisa melihat dari dekat bangunan Masjid Agung yang usai direnovasi. Dari Masjid Agung, rombongan akan dibawa ke sebuah Pesantren. Diharapkan bisa melihat ruangan-ruangan baik untuk tinggal maupun belajar.
Sepeda didayung lagi menuju ke arah Gereja. Gereja sederhana yang tak tampak seperti gereja, letaknya di pertigaaan Jalan Kaliwungu. Dari Gereja, rombongan akan mendayung lagi ke arah Makam Taman Pahlawan. Meskipun Boja merupakan kota kecil, namun beberapa pahlawan lokal telah mendapat tempat khusus di makam ini.
Hari VII: Sabtu, 10 Mei: Nonton Latihan Kuda Lumping Anak-Anak di Desa Truko.
Berangkat: 14.00
*Sebagai acara penutup selama 7 hari bersepeda, rombongan akan mengontel sepeda ke sebuah desa kecil bernama Truko. Setelah membelah hutan jati dan karet, tibalah di desa yang masih sunyi. Di desa ini hanya ada SD dan akan mewawancarai seorang sesepuh desa, untuk berkisah tentang tradisi Sedekah Deso (Ulang Tahun Desa) yang biasa dengan pagelaran wayang kulitnya. Uniknya, pada malam pagelaran wayang kulit itu, setiap warga memasak dan menerima tamu tak diundang, untuk makan dan mencicipi masakannya. Pada saat yang sama, gadis-gadis desa dibebaskan di keremangan lampu teplok saling mengenal tamunya. Di desa Truko ini dikenal banyak Kembang Desa.
Puncak acara di sini menyaksikan Latihan Kuda Lumping yang dimainkan oleh anak-anak desa Truko.
Acara berSastra sambil berSepeda di Boja, usai.
-oOo-
Penyelenggara dan Penanggung Jawab:
1. Pondok Maos GUYUB: Hartono. HP:081-325 411 032
2. Pondok Baca Ajar Meteseh: Heri Santoso. HP:085-225 784 668
3. Milis Apresiasi-Sastra: Sigit Susanto. Telp: 0294-571 204
Selamat Mengontel dan Menulis Catatan Perjalanan.
Filed under: Perjalanan | 3 Comments »
